Salah satu yayasan yang ada di jawa barat yaitu Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) akan mendirikan Akademi Batik Indonesia dengan maksud untuk mengembangkan dan menyiapkan tenaga batik profesional di Indonesia. “Akademi Batik Jabar mempunyai visi dan misi yaitu menyiapkan tenaga profesional di bidang batik yang menguasai dan memiliki keterampilan membatik yang siap terjun ke sektor industri,” kata Ketua Harian Yayasan Batik Jabar Komarudin Hudiya di Bandung, sehingga jika jadi direalisasi ini merupakan satu-satunya lembaga pendidikan resmi pertama di Indonesia.
Menurut Rencana, lembaga pendidikan khusus bidang batik itu akan berdiri pada 2012 dengan kapasitas tampung lebih dari seratus orang per angkatannya. Setiap angkatan akan mengenyam pelatihan membatik selama tiga bulan dan selanjutnya mendirikan usaha sendiri. Meski berlabel akademi, namun program pendidikan membatik di sana mirip dengan pelatihan. Namun demikian pesertanya ditujukan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Jawa Barat. “Prioritas peserta didik dari generasi muda di Jawa Barat, menyebar di setiap daerah sehingga lulusannya bisa mengembangkan usaha batik di daerah asal masing-masing,” kata Komarudin. Kehadiran akademi batik menurut Komarudin sangat diperlukan sehingga proses regenerasi pelaku industri maupun kerajinan batik di Jawa Barat bisa dilakukan secara kontinyu. Masalah yang dihadapi perajin batik di Indonesia saat ini, kata dia adalah regenerasi pembatik yang saat ini rata-rata sudah berusia tua. Sedangkan penerusnya sudah mulai langka, bahkan beberapa pengrajin gulung tikar karena kurangnya tenaga kerja pembatik. “Permasalahan regenerasi dihadapi kerajinan batik, disamping pasar yang masih perlu terus digenjot. Serbuan batik printing di pasaran cukup memukul industri batik tulis dan tradisional,” kata Komarudin. Lebih lanjut, Komarudin menyebutkan, langkah pendirian Akademi Batik itu juga sebagai upaya untuk meningkatkan produksi batik tulis Jawa Barat yang sempat stagnan akibat kurang pengembangan. “Pasar batik saat ini masih bagus, meski boomingnya pada 2009 lalu. Kita berusaha untuk mempertahankan animo pasar terhadap batik, salah satunya dengan mengembangkan motif berdasarkan kekhasan daerah,” katanya. Ia mencontohkan, beberapa motif baru dikembangkan oleh generasi pembatik di daerah seperti di Subang mengembangkan batik ganasan, motif buaya, motif beasan di Cianjur dan beberapa motif baru lainnya. “Selama ini ada sekitar 200 motif batik di Jabar dan sudah dibukukan dalam bentuk buku saku motif batik.
Informasi ini cukup melegakan bagi kalangan yang bergelut di bidang batik, sehingga budaya batik indonesia tidak akan kalah dengan negara lain seperti malaysia yang mengklaim sebagai negara asal muasal batik.
sumber harian republika